Explore

Kamis, 05 November 2015

Pengusaha atau Player??



Jadi waktu itu saya makan siang usai kegiatan di sebuah restoran Jepang di kota Seoul. Saya duduk satu meja bersama Haneul (interpreter) dan Sora (coordinator), serta teman saya Shelly. Sembari ngobrol banyak tentang Korea dan Indonesia kita menunggu pesanan makanan datang. Kita banyak ngobrol tentang kuliner di Korea dan beberapa restoran non-Korea yang ada di Seoul. Sembari ngobrol saya pun mengecek beberapa notification di HP saya.



Dari awal saya memang menggunakan 2 HP selama di Korea, namun saya sering meninggalkan satu HP di kamar atau membawanya di dalam tas dan menggunakannya hanya sebagai cadangan. Namun pada makan siang itu saya mengeluarkan HP cadangan saya untuk melihat kalau-kalau ada notifikasi lain. Begitu makanan datang, saya pun meletakkan dua HP saya di sebelah kanan makanan.



Tiba-tiba saja Haneul dan Sora ngobrol berdua menggunakan bahasa Korea sambil senyum-senyum sendiri. Saya sama Shelly cuma lanjut makan aja. Mereka masih terus ngobrol sampai beberapa saat kemudian di tengah-tengah kita makan. Tiba-tiba Haneul memanggil saya sambil masih senyum-senyum.

“Hi Eri,”
“Yap?” jawabku sambil mengunyah sisa makanan di mulut.
“You have 2 phones?” tanya Haneul.
“Yes, why??” aku tanya balik
“Hmmmm, you are a bussinessman?” Haneul tanya lagi
“No, I just graduted from university,”

Haneul dan Sora kembali terlibat obrolan menggunakan bahasa Korea dengan masih sambil cekikikan dan senyum-senyum. Saya dan Shelly yang emang ga jago bahasa Korea cuma nebak-nebak aja. Akhirnya saya tanya sama Haneul.

“It’s not common thing to have 2 phones in Korea, except that you are a bussinessman, or....” Haneul menjelaskan
“or what, Haneul?” saya penasaran sudah
“a player, haha” jawab Haneul sambik tertawa.

Saya yang kaget malah ikutan ketawa, diikuti Sora dan Shelly. Buseeet, jadi dari tadi Sora dan Haneul mikir kalau saya ini playboy yang lagi menangani 2 cewek lewat 2 HP yang berbeda, hahaha. Mengantisipasi untuk menjaga nama baik, haha, saya jelaskan saja ke Haneul dan Sora kalau di Indonesia sekarang sudah menjadi hal biasa punya dua HP. Mereka berdua ngangguk-ngangguk dan kita lanjut makan siang sambil ngobrolin banyak hal lain.

Selasa, 31 Maret 2015

SGTC (SCTV Goes to Campus) 2015

Pada awalnya saya biasa-biasa aja kalau ada yang tanya “kapan lulus”, “kapan wisuda”, dan pertanyaan-pertanyaan sejenis. Menurut saya lulus ga harus tiga setengah tahun, asal usaha tidak berhenti. Tapi sekarang jadi rada gengges karena pertanyaan-pertanyaan kaya gitu semakin menjadi-jadi dan terjadi kapanpun dan dimanapun. Walaupun saya tetep biasa-biasa aja, hahaha


Tapi ada lho momen di saat saya bersyukur kalau saya belum lulus kuliah. Lho kok bisa?? Jadi ceritanya gini: pada suatu hari seperti biasa saya sedang terbayang skripsi yang ga kelar-kelar di saat ada satu broadcast message dari temen tentang acara "SCTV Goes to Campus 2015". Acara ini isinya berbagai macam pelatihan tentang karir dunia TV, dan yang oke banget ada lomba news presenter! Sebagai anak komunikasi saya mupeng dong ikutan lomba kaya gini. Apalagi programnya yang buat sekelas Liputan 6 SCTV dengan hadiah yang menawan banget dah pokoknya. Pengalaman siaran di radio, saya pede aja daftar! Trus hubungannya dengan skripsi dan "ga lulus-lulus"? Jadi, salah satu syarat untuk ikutan adalah para manusia yang masih berstatus mahasiswa. Nah, GUE BANGET kan ! Masih berstatus mahasiswa (yang belum lulus).

Akhirnya saya ikutan dan seleksi pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 24 Maret kemarin. Oh ya, ternyata SGTC ini ga cuma yang berstatus mahasiswa doang. Pas dateng di seleksi hari pertama, banyak juga tuh yang udah kerja dan berumur juga ikutan. Hari pertama diisi sama test tertulis dan wawancara. Test tertulis diisi dengan berbagai soal pengetahuan umum, seperti hewan perliharaan pak Jokowi, tanggal tsunami aceh, hingga aliran musik Taylor Swift! Sebagai #swifties saya senyum-senyum sendiri jawab pertanyaannya, haha. Waktu sesi wawancara sudah saya siapkan CV dan foto edisi ganteng. Ada 5 interviewer yang ada dan saya kebagian mbak Retno Pinasih, sip dah ! Dari 130an peserta yang ikutan akan diambil 10 finalis yang akan melakukan live report untuk menentukan siapakah juara 1-3.

Sembilan finalis SGTC 2015 Solo

Final diadakan di esok hari Kamis, 25 Maret. 10 besar finalis akan diumumkan usai seminar yang diadakan dari pagi. Saya dari rumah berangkat jam 9 dan masih galau apakah akan datang ke rektorat untuk lihat pengumuman finalis atau ke fakultas aja untuk konsultasi skripsi. Maksud hati mau milih ke fakultas aja deh, soalnya dosbim saya Jumat mau ke luar kota, jadi sayang banget kalau sampe gagal konsul skripsi! Tapi karena ibu saya bilang kalau mendingan saya dateng ke lomba SGTC dulu, akhirnya saya datang ke auditorium tempat lomba. Di sana sudah ada Dewa, temen saya dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, yang ikut barengan lomba news presenter ini. Saya berangkat dengan rencana kalau sampai jam 11 siang belum diumumkan, mau langsung ke fakultas aja buat konsultasi skripsi.

Seminar selesai jam 10.45 dan 10 finalis diumumkan, nama saya ada di urutan no 9! Ga nyangka aja, akhirnya rencana konsultasi terlupakan sejenak. Saya dan 10 finalis lainnya masuk ke sebuah ruang untuk persiapan. Para finalis diberi tema masing-masing mengenai berita yang sedang hangat. Beritanya bener-bener yang baru aja keluar pagi ini. Saya kebagian tentang penetapan Denny Indrayana sebagai tersangka kasus korupsi payment gateway. Sempet ribet juga karena hanya diberi waktu sekitar 15 menit untuk persiapan sementara koneksi hape kena blocking atau kenapa sampai buat browsing lemot abis. Akhirnya dengan bantuan pinjem smatrphone panitia, persiapan kelar!

Singkat cerita giliran saya kelar dengan lancar.Tapi ada satu yang cukup seru. Setiap finalis diminta live report seperti layaknya seorang reporter yang melaporkan berita dari lapangan. Setelah selesai laporan, orang yang seolah menjadi anchor di studio akan bertanya tentang pertanyaan terkait laporan kita. Daaan, selesai dengan live report, saya dapat pertanyaan "menurut Anda, Denny Indrayana salah ga?" !

Kelar deh kelaar, tinggal nunggu pengumuman aja. Juara 3 diraih Dimas, seorang penyiar TVRI Jawa Timur. Doi sedang mengambil program master di UGM tapi saya lupa departemen apa. Juara 2 diraih Jaya, penyiar TVRI Jawa Barat dan sedang mengambil program transfer S1 Ilmu Komunikasi di UNS. Saya udah nothing to lose aja deh. Masih inget banget saat pengumuman Juara 1. Mbak Senandung Nachita sempet tanya ke audience mau milih Juara 1 nya cowok atau cewek. Karena 2 jauranya udah cowok, audience pada teriak "ceweeeeeeek!". Masih inget juga waktu mbak Retno Pinasih sebagai ketua dewan juri mulai mengumumkan Juara 1. Mbak Retno bilang kalau Juaranya ga jauh-jauh dari urutan juara 2 dan Juara 3. Dimas peserta urutan 8 dan Jaya peserta urutan 10, dan bener aja, Juara 1 jatuh ke peserta no urut 9, DAN NAMA GUE DISEBUT !! Ga nyangka, seneng, dan kaget cuuuy ! Rezeki anak sholeh, belum lulus kuliah, skripsi belum kelar-kelar, tapi dikasih yang beginian. Big thx, God !

Pemenang dan finalis bersama pak Nurjaman dan Pak Ravik


Saya jadi inget, untung Ibu saya nyuruh saya tetep dateng ke pengumuman SGTC ini yang akhirnya berbuah manis :)
Akhirnya saya juga tetep bisa konsultasi skripsi juga lho, dan hari itu juga kerjaan analisis saya disetujui !
Lengkap sudah :)

The Winners SGTC 2015 Solo

Kamis, 25 Desember 2014

Karena Air !

Postingan kali ini mengenai tragedi saya sewaktu proses pemilihan Putra Putri Batik Nusantara. Tragedi ini berhubungan dengan air, dan terjadi dua kali, duuuuuh.

Pertama, terjadi saat tahap seleksi semifinalis di Jakarta. Peserta dari seluruh Indonesia, hasil audisi lokal di 17 kota, menjalani test untuk menjadi finalis. Proses seleksi dilakukan di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tanggal 6 September. Saya sudah tiba sehari sebelumnya dan menginap di Maxone Hotel daerah Sabang, Jakarta. Saya shared room bareng semifinalis dari Semarang.

Proses seleksi terbagi dalam dua shift. Saya dapat shift siang dan teman saya dapat shift pagi. Besoknya pagi-pagi buta teman saya sudah bangun untuk siap-siap menuju tempat test, sementara saya masih enak tiduran di kasur, hahaha. Setelah sarapan, teman saya berangkat dan saya kembali ke kamar. Sempat kembali tidur dan dapat sekitar satu setengah jam, hahaha.

Akhirnya saya mandi dan bersiap-bersiap. Jam 10.30 siang saya masih santai karena test masih jam 12 dan perjalanan tidak sampai 20 menit. Tragedi terjadi saat saya akan mencuci tangan. Saat kran diputar, dengan semena-mena airnya muncrat luar biasa banyak ke celana saya. Ga tanggung-tanggung, setengah celana basah. Panik jelas, karena kamar hotel ini tidak dilengkapi dengan hair dryer atau alat pengering lainnya. Salah satu langkah yang terpikir waktu itu adalah mengelap dengan handuk. Alhasil saya sampai di Kemenparekraf jam 11.45. Celananya ga basah sih, cuma rada dingin aja, hahaha

Tragedi kedua lebih drama lagi, dan ini hampir membuat saya lemas di tempat (ini seriusan). Oke, jadi kejadiannya saat Grand Final Putra Putri Batik. Acaranya di Auditorium gedung Sapta Pesona Kemenparekraf, 28 September. Acaranya terbagi ke dalam beberapa bagian. Nah, tragedi ini terjadi benar-benar di awal acara. Outfit waktu itu adalah batik casual dengan bawahan chinos panjang. 14 finalis putra sudah siap di back stage. 30 menit sebelum on stage, saya memutuskan untuk buang air kecil. Selesai buang air kecil, saya berniat mencuci tangan. Karena wastafel sedang dipakai teman saya, akhirnya saya pakai shower untuk cuci tangan. Daaaaaaaaaan, saat saya memutar kran shower, kepala shower langsung bergerak liar tak terkendali ! Hasilnya celana chinos saya basaaaaaah ! Aaaaaarghhhhh !!

Saya langsung lemas, berbeda dengan celana kain di tragedi pertama yang lebih tipis, celana chinos lebih tebal dan tidak mungkin kering hanya dengan dilap. Apalagi sebentar lagi sudah on stage. Di kepala saya sudah terbayang akan naik panggung dengan celana basah ! Duuuuuh !! Tiba-tiba saya teringat, Elsana finalis dari Jogja membawa dua celana chinos. Akhirnya saya samperin dan pinjam ! Ajaibnyaaa, celananya satu merek dengan celana saya yang basah, dan saat saya coba pas ! Rasanya tuh lega luar biasa ! Hehe. Selesai tragedi tersebut saya langsung duduk menenangkan diri, beberapa menit kemudian semua finalis memasuki panggung untuk opening number di Grand Final Putra Putri Batik Nusantara 2014 !

Senin, 29 September 2014

[Metro TV News] Ini Dia Pemenang Putra Putri Batik Nusantara 2014 - Top 7 & Putra Batik Nusantara Favorit 2014 :)

sumber : Metro TV Online
29 September 2014
Judul : Ini Dia Pemenang Putra Putri Batik Nusantara 2014
tautan : http://m.metrotvnews.com/read/2014/09/29/298056/ini-dia-pemenang-putra-putri-batik-nusantara-2014



Metrotvnews.com, Jakarta: Setelah melewati proses karantina dan penjurian, Garuda Cakti Viratama (Surabaya) dan Nina Jane Bustan (Jakarta) akhirnya terpilih sebagai Putra dan Putri Batik Nusantara 2014.

Posisi Runner Up 1 digondol Adrianus Sandy Dharmawan (Jakarta) dan Fransiska Oki Riang (Solo). Runner Up 2 jatuh kepada I Gusti Made Kusuma W (Denpasar) dan Cindy Herin Adisa Hendatary (Jakarta).

Malam penobatan berlangsung di Gedung Sapta Pesona, Kementrian Pariwisata dan Industri Kreatif yang diselenggarakan pada Minggu (28/9/2014) malam.

Sebelum diumumkannya Putra-Putri Batik Nusantara 2014, dewan juri sebelumnya mengumumkan finalis yang masuk kategori 7 besar. Mereka adalah:

1. Eri Dwi Cahyono (Solo) dan Insi Detia (Banjarmasin)
2. Adrianus Sandy Dharmawan (Jakarta) dan Aznah Putri Sari (Palembang)
3. William Wimpy Prihadi (Bandung) dan Annisa Hertami Kusumastuti (Yogyakarta)
4. Danar Gumilang (Jakarta) dan Cahaya Nur Hikmah (Balikpapan)
5. I Gusti Made Kusuma W (Denpasar) dan Cindy Herin Adisa Hendatary (Jakarta)
6. M. Rizky Zakaria (Medan) dan Fransiska Oki Riang (Solo)
7. Garuda Cakti Viratama (Surabaya) dan Nina Jane Bustan (Jakarta)

Kemudian, jumlah tersebut pun mengerucut menjadi tiga besar. Mereka adalah:

1. I Gusti Made Kusuma W (Bali) dan Fransiska Oki Riang (Solo)
2. Garuda Cakti Viratama dan Nina Jane Bustan (Jakarta)
3. Adrianus Sandy Dharmawan (Jakarta) dan Cindy Herin Adisa Hendatary (Jakarta).

Dengan terpilihnya Putra-Putri Batik 2014, Ayu Diah Pasha selaku Ketua Ikatan Pecinta Batik Nusantara berharap agar pengembangan batik sebagai pemersatu bangsa dapat terwujud.

"Kita (bangsa Indonesia) punya jati diri. Bangsa yang punya jati diri tidak akan mengekor dan menggunakan produk luar secara membabi buta. Mari kita lestarikan dan gunakan batik kita," ajak Ayu.
(ROS )

Selasa, 20 Mei 2014

Dana Pensiun Sejak Muda untuk Mimpi yang Sebenarnya

Terkadang kita memutuskan untuk mengambil suatu pekerjaan karena tunjangan dana pensiun yang diberikan tapi pekerjaan tersebut tidak kita nikmati sebagai pekerjaan yang sesuai dengan passion kita. Dana pensiun memang sangat penting untuk dipersiapkan. Tapi jangan sampai kekhawatiran akan dana di masa depan ini membuat kita merelakan mimpi kita yang sebenarnya, mimpi untuk bekerja sesuai dengan passion. Sehingga solusinya adalah mempersiapkan dana pensiun sedini mungkin. Apapun pekerjaan dan profesi kita, kita tetap bisa mempersiapkan dana di hari tua jika mempersiapkannya dari sejak muda, dan kita tetap meraih mimpi kita.



Masalah pekerjaan bisa dibilang gampang-gampang susah. Terlebih untuk para mahasiswa yang sudah memasuki tahap akhir dan akan segera diwisuda, seperti saya, hehe. Pekerjaan untuk beberapa mahasiswa menjadi fase yang penuh dengan semangat menghadapi hidup yang sebenarnya tapi beberapa di antaranya juga dapat menjadi masalah yang serius.

Pekerjaan yang akan dipilih tidak semata-mata melihat pada track studi yang telah diambil dalam masa perkuliahan. Mahasiswa yang memiiliki idealisme yang cukup tinggi tentu menginginkan pekerjaan yang memang sesuai dengan passion. Tapi terkadang orang tua dengan sudut pandang yang lebih realistis dan terkadang cenderung praktis ingin mengarahkan kepada pekerjaan yang menjanjikan. Menjanjikan di sini dalam artian sebuah pekerjaan yang dapat memberikan kepastian-kepastian. Salah satu pekerjaan yang masih banyak diminati karena dinilai cukup menjanjikan adalah menjadi PNS atau Pegawai Negeri Sipil.

Beberapa orang tua menjadikan PNS sebagai pilihan pekerjaan yang menjanjikan karena memiliki kepastian-kepastian tertentu. Kepastian dengan besaran pendapatan, kepastian dengan berbagai tunjangan, dan kepastian akan jaminan hari tua. Poin ketiga ini merupakan salah satu pertimbangan yang serius karena dengan adanya tunjangan penisun, kebutuhan-kebutuhan di hari tua dapat diatasi. 

Memilih sebuah pekerjaan tertentu jangan sampai hanya karena tunjangan hari tua yang diberikan. Jangan hanya karena kekhawatiran di masa depan di saat datang masa pensiun membuat kita merelakan mimpi kita terlewat begitu saja. Menjalani pekerjaan tertentu karena masalah tunjangan pensiun terlebih karena unsur paksaan tentu hanya akan menjadi sebatas alat mencari rupiah. Mimpi harus diperjuangkan. Mimpi sebagai penulis, mimpi sebagai fotografer, mimpi sebagai model profesional, atau mimpi-mimpi lain patut untuk diperjuangkan. Kekhawatiran akan ketidakpastian di masa pensiun memang perlu diatasi tapi jangan sampai mengorbankan mimpi yang kita miliki. Semuanya tetap bisa berjalan dengan persiapan dana pensiun dari sejak muda.

Beberapa perusahaan sudah menyediakan dana pensiun bagi kariawannya. Tapi kalaupun tidak, persiapan dana di hari tua ini dapat kita siapkan sendiri terlebih yang berencana berwirausaha secara mandiri. Banyak produk jasa untuk mempersiapkan dana pensiun ditawarkan, seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan. Kita dapat menentukan sendiri dana pensiun kita dengan perkiraan yang dapat kita hitung. Dapat menggunakan perkiraan kebutuhan di hari tua atau berdasarkan besarnya pemasukan yang ingin kita dapatkan. 

Prinsipnya mudah. Kita bisa menabung untuk mempersiapkan dana di masa tua, atau bisa bergabung dengan penyedia jasa dana pensiun. Banyak lembaga yang berfokus pada penghimpun dana pensiun, banyak bank yang telah menawarkan produk persiapan dana seperti ini. Salah satu bank yang telah memiliki produk jasa tersebut adalah Bank Negara Indonesia (BNI) berupa produk BNISimponi yang dapat menjadi pilihan.


Kebutuhan di masa tua atau masa pensiun memang penting untuk dipersiapkan. Di saat masa pensiun menjadi hal yang sudah dipersiapkan dengan matang, di masa depan kelak kita tetap bisa memenuhi kebutuhan dan tidak perlu merepotkan anak cucu untuk masalah keuangan. Lebih penting lagi jangan sampai hanya karena kekhawatiran di masa pensiun membuat kita harus terpaksa memilih suatu pekerjaan tertentu. Karena bagaimanapun juga mimpi perlu diperjuangkan. Pekerjaan apapun tetap bisa menjamin masa tua kita, asalkan dana pensiun sudah kita persiapkan sedini dan semuda mungkin. Karena tidak ada pekerjaan yang lebih menyenangkan kecuali perkerjaan yang sesuai dengan passion dan mimpi kita.

http://bit.ly/BNI_Simponi

Rabu, 15 Januari 2014

Full Color ! [ Photo ]

Beberapa hari yang lalu saya ceritanya main sama beberapa temen SMA, dan habis hujan, lepas makan selat, nemu pelangi yang kenceng banget :)
Lokasi di Bekonang, Sukoharjo
Foto diambil pake kamera primer Blackberry Z10