Explore

Selasa, 28 Juni 2016

Book Makes Me Horny



Book Makes Me Horny???
Saya sempat dibilang “sakit” sama temen saya saat saya bilang “Book Makes Me Horny”, hahaha. Emang sensasinya gitu, tapi ga merujuk pada sensasi seksual lho gan!



Oke jangan berfikir macam-macam dulu. Kalimat ini saya adaptasi dari buku “Radio Makes Me Horny” karya Ficky Hidayat. Gimana beberapa orang bisa punya sensasi-susah-dijelaskan dengan radio. Entah saat mendengarkan penyiar favorit kita, atau saat penyiar itu sendiri bisa menyapa pendengar.

Hal serupa jugalah yang saya alami dengan BUKU. Ya tidak salah, BUKU. Saya selalu punya sensasi-susah-dijelaskan sama buku. Entah dalam proses membaca, atau bahkan cuma ditoko buku doang, haha. Tapi saya juga ga “kutu buku” amat sih sebenarnya. 

Sementara itu, di rumah saya, sebenarnya saya doang yang doyan baca. Saya suka baca kalau ga salah sejak SMP. Awalnya emang suka baca komik tapi ga bertahan lama. Karena mulai kelas 2 SMP saya udah mulai baca Narnia dan Harry Potter. Lewat buku Harry Potter ini juga saya makin berani buku tebel-tebel. Dari mulai 200an halaman, sampai 700an halaman dijabanin. Trus sempat senewen baca Harry Potter and the Order of the Phoenix, tapi akhirnya kelar 1200 halaman! Buku ini juga jadi buku paling tebel yang dibaca “every single page” sampai sekarang. Warbyasaaaaaak.



Awalnya saya Cuma doyan baca buku fiksi fantasi dan buku yang enteng-enteng. Tapi makin ke sini apa yang saya baca ternyata berpengaruh pada kemampuan bahasa, kemampuan menulis, cara berfikir, dan tentu saya ilmu yang kita dapat. Sehingga sekarang saya mulai baca buku dari berbagai genre. Fiksi fantasi tetep, tapi sekarang mulai diselingi buku-buku lain seperti biografi, roman, sastra, psikologi, dan lain-lain.

Balik ke sensasi-sudah-dijelaskan, secara misterius buku juga bisa memperbaiki mood saya kalau lagi berantakan. Saya emang terbiasa paling ga 2 bulan sekali bongkar-bongkar buku buat cek  mana aja yang ga ada: dipinjem atau lupa naruh. Biar ga ilang. Selain itu juga buat “angin-angin” buku saya biar ga kena jamur. Naah kalau tiba-tiba saya lagi ga bagus mood nya (yaelah labil juga masih), saya tinggal bongkar buku-buku saya, sambil dibersihin, cek mana aja yang ga ada, dan taraaaaaaaaaaaaa, mood saya kembali bagus. It’s magic! Bener-bener deh, “Book Makes Me Horny!”

Senin, 04 April 2016

#PPAN – Di Saat Kamu Takut Tidak Berhasil, Saya Justru Pernah Gagal



Hi !
Saya menulis lagi, dan kali ini saya ingin menulis tentang Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN). Ini tulisan PPAN saya pertama di blog. Sebelulmnya pengalaman di PPAN sudah saya share terlebih dahulu di facebook dan instagram. 

Awal semester pertama di bulan Maret/ April seperti ini sedang ramai dibuka pendaftaran untuk Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) di berbagai provinsi di Indonesia. Untuk kamu yang ingin mendaftar program dengan 6 negara tujuan harus bersiap-siap di bulan-bulan tersebut. Seleksi akan dilakukan di provinsi masing-masing sesuai KTP dengan waktu yang berbeda-beda. Untuk Jawa Tengah, pendaftaran sudah dibuka sampai 6 April, jadi silakan kepoin langsung di www.pcmijateng.com

Pria-pria delegasi Jawa Tengah untuk PPAN 2015,
ditambah alumni ASVI 2014. Dwiyan (India),
Ulfa (India), Dhito (Jepang-ASEAN), saya (Korea)


Saya sendiri join PPAN 2015 untuk program Indonesia-Korea Youth Exchange Program (IKYEP). Seleksi saya lakukan di bulan April atau Mei tahun kemarin dan program dilaksanakan di bulan Oktober dan November. Di semester pertama awal adalah jadwal seleksi, dan keberangkatan program di semester kedua (Agustus-Desember), berbeda untuk tiap program. Penjelasan program saya jelaskan lain waktu ya, atau kepoin web dan socmed PCMI juga boleh. Saya di sini lebih ingin berbagi tentang bagaimana saya akhirnya bisa daftar PPAN, ikut seleksi, hingga akhirnya lolos seleksi untuk bisa join PPAN. 

Jadi, saya pertama kali tahu tentang program PPAN di tahun 2012 karena melihat poster yang ditempel di mading kampus. Kesempatan untuk jadi Duta Muda Indonesia, terlebih dengan pilihan negara yang beragam, membuat saya memutuskan untuk mendaftar. Waktu itu berkas yang harus saya urus memang lumayan banyak, tidak jauh berbeda dengan berkas seleksi tahun ini. Semua berkas selesai saya dapatkan dan saya kirimkan ke panitia seleksi. Selang beberapa hari keluarlah pengumuman peserta yang lolos administrasi, nama saya masuk di sana. Akhirnya saya kepo di internet mengenai bagaimana seleksi PPAN. Meskipun saya tidak paham bagaimana gambaran detailnya, secara umum saya tahu sistem seleksinya.

Karena menggunakan sistem gugur, saya update beberapa info mengenai Jawa Tengah dan terkait info negara tujuan untuk persiapan seleksi awal tertulis. Saya baca-baca buku yang memuat info terkait dan browsing di internet. Hingga saat hari seleksi tiba, saya berangkat ke Semarang. Seleksi tertulis dimulai. Kalau tidak salah ada 100 soal, dan saya terheran-heran karena saya hanya yakin dengan 50 jawaban saya, bahkan mungkin kurang, haha. Dalam hati saya merasa bego ga bisa jawab pertanyaan di tes tertulis dengan baik. Benar saja, saat diumumkan yang lolos seleksi tertulis, nama saya tidak ada di 10 peserta tersebut.

Akhirnya saya pulang ke Solo, saya gagal di PPAN 2012. Berhenti? Tidak. Singkat cerita karena saya merasa bego ga bisa lolos tertulis, saya memutuskan langganan koran Kompas. Kenapa? Karena tes waktu itu memang banyak yang mengenai pengetuan umum. Saya memang masih penasaran buat ikutan PPAN lagi, dan ini jadi semacam langkah yang coba saya usahakan, hehe. Tahun berikutnya saya mau daftar PPAN, tapi ternyata kuota untuk laki-laki tidak ada. Saya tunggu lagi tahun berikutnya. Tapi karena suatu hal saya ga bisa daftar. Akhirnya saya fokuskan lagi untuk memperbanyak pengalaman di dalam maupun luar kampus. Hingga akhirnya muncullah pengumuman seleksi PPAN 2015 dengan pilihan negara Korea, India, dan Jepang-ASEAN. Pilihan saya jatuhkan ke Korea, negara asal SNSD dan Super Junior, hehe.

Saya hadapi seleksi dengan segala macam persiapan yang saya lakukan dari tahun 2012. Ini semacam perjuangan yang patut diperjuangkan. Tes tertulis dimulai, saya buka soalnya. Saya lebih percaya diri ketimbang tahun 2012 kemarin. Selesai tes tertulis, pengumuman pun keluar. Saya memang lebih yakin dari tahun sebelumnya, tapi dengan ratusan peserta lain dan hanya diambil 10 tiap program yang lolos seleksi tertulis, saya senewen juga. Hingga nama saya pada akhirnya masuk 10 besar program IKYEP. Tahu perasaan saya waktu itu? Saya dalam hati bilang, “Akhirnya saya udah ga bego lagi,” hahahahaha. Langganan koran Kompas 2 tahun berbuah manis, hehe. 

Lanjut seleksi FGD. Group saya kebagian tema pariwisata, saya pun diam-diam girang karena saya cukup menguasai tema ini. Kata orang, mungkin ini yang disebut “semesta mendukung”.Diskusi dalam FGD berjalan dinamis, cara pandang masing-masing peserta dikeluarkan. Senewen waktu pengumuman 5 besar untuk lanjut di tahap wawancara pun masih terasa. Tapi kelegaan muncul saat nama saya masuk 5 besar IKYEP! Saya bersyukur, “saya udah ga bego lagi, dan berhasil lolos FGD”, haha.

Saat wawancara, saya jadi lebih percaya diri. Saya selesaikan semua pos dengan lancar. Waktu unjuk bakat, saya membawakan seni pedalangan mengadobsi “Wayang Kampung Sebelah”. Ternyata juri waktu itu kenal dengan pak Jlitheng sang pembuat wayang, saya waktu interview juga sempat ngobrol soal wayang ini. Selesai semua rangkaian seleksi saya pulang ke Solo dengan perasaan lega sambil harap-harap cemas.

Pengumuman kandidat yang lolos ternyata telat beberapa hari. Saya makin galau menunggu pengumuman, haha. Sampai pada hari Jumat dan saya dapat pesan whatsapp dari PCMI Jateng, saat saya buka saya juga sudah tergabung di group PPAN 2015, saya sempat ga percaya. Saya cek web PCMI Jateng, benar saja nama saya terpilih menjadi delegasi Jateng untuk IKYEP 2015! Sensasi saat buka pengumuman itu bahkan masih teringat jelas sampai sekarang (serius ini ga lebay, haha). Saya kadang suka senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana perjuangan untuk lolos PPAN ini.

Seleksi PPAN 2016


Jadi untuk pemuda-pemudi yang ingin mendaftar PPAN tahun ini, ga perlu minder ga perlu khawatir. Kalau ngomongin pengalaman dan networking, kamu bakal dapat banyaaaak buangeeeet. Ga perlu minder dan takut. Karena kalau kamu takut ga lolos, saya justru pernah gagal.

Untuk yang belum daftar silakan kepoin www.pcmijateng.com atau via facebook twitter dan instagram. Untuk yang sudah daftar, semoga berhasil. Sampai jumpa di seleksi PPAN 2016 di Semarang!

Kalau mau tanya-tanya soal PPAN juga bisa kontak saya di line @ericoffe

Minggu, 07 Februari 2016

Industri Makanan Halal di Thailand



Beberapa hari yang lalu rame di medsos tentang jilbab halal. Banyak komentar muncul, baik yang  positif maupun negatif. Semua dengan cara pandang masing-masing.

Hal ini mengingatkan saya dengan sebuah diskusi di sebuah kelas (meskipun bukan soal jilbab) di Kedutaan Besar Indonesia di Bangkok Thailand tahun 2014 kemarin. Waktu itu saya ada program di sana untuk membahas salah satunya mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). 
Tulisan mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)/
ASEAN Economic Community
di salah satu jembatan penyeberangan di Bangkok, Thailand.

Salah satu pejabat di kedutaan tersebut (saya lupa namanya) memberikan materi mengenai persiapan MEA di Thailand. Menurutnya, Thailand adalah negara di ASEAN yang siap menghadapi MEA. Salah satu yang paling sederhana, Thailand sudah paham bahwa awareness mengenai MEA harus ditingkatkan. Banyak sekali poster-poster berukuran besar mengenai MEA ini di jalanan. Saya juga melihatnya sendiri di papan reklame, tembok jembatan penyeberangan, dan tempat-tempat strategis lainnya banyak berisi gambar-gambar mengenai info MEA. Kasarnya, sopir tuk tuk sekalipun bakalan tahu apa itu MEA, meskipun tidak memahami secara mendalam. Sampai pada rencana jangka pendek dan panjang dari Thailand dalam menghadapi MEA dengan membuat proyek logistic hub dan industri makanan halal.

Naaaah, soal industri makanan halal ini, masih menurut pejabat kedutaan dalam kelas diskusi tersebut, rencana Thailand untuk berkecimpung dalam industri makanan halal ini adalah ide yang kreatif dan inovatif. Karena belum banyak negara yang fokus pada industri makanan halal. Target dari konsumen makanan halal sendiri bukan hanya umat Muslim, namun dipaparkan untuk semua konsumen. Di Thailand sendiri, konsumen makanan halal tidak hanya umat Muslim atau turis Muslim yang berkunjung ke Thailand, tapi bagi siapa saja.
Makanan halal bukan hanya makanan yang bebas dari bahan-bahan yang haram seperti babi dan sejenisnya serta diolah dengan cara-cara yang benar, namun juga makanan yang dijaga kebersihannya. Sehingga nantinya makanan berlaber halal dari industri makanan halal ini tidak hanya halal dari segi komposisi, namun juga dari proses yang dijaga kebersihan dan kualitasnya. Sehingga tak hanya orang Muslim, orang non-Muslim juga bisa menjadi konsumen makanan halal yang telah diolah dengan proses yang baik.

Yang bikin takjub, ide ini justru muncul di negara yang bukan mayoritas Muslim. Bagi perusahaan makanan di Indonesia, ayo yang mau garap industri makanan halal ini bisa ikutan dieksekusi juga J

Selasa, 02 Februari 2016

QOTD 1

Salah satu cara,
Menghadapi tantangan hari ini,
Dan masa depan
Adalah dengan berdamai dengan masa lalu.
Entah dengan apapun atau siapapun itu
-------
Solo
16.01 WIB
Usai Hujan di Siang Hari

Minggu, 10 Januari 2016

Tebak Tulisan

Hi!
Coba cek tulisan ini...

-------
Maaf ku tak pernah berterus terang
Bukan ku tak mempercayaimu
Namun sebelum ku berganti rupa
Ingin aku menemui mu
-------

Tahu tulisan di atas dari mana?
Oke kita seangkatan! 😄😄😄

Kamis, 05 November 2015

Pengusaha atau Player??



Jadi waktu itu saya makan siang usai kegiatan di sebuah restoran Jepang di kota Seoul. Saya duduk satu meja bersama Haneul (interpreter) dan Sora (coordinator), serta teman saya Shelly. Sembari ngobrol banyak tentang Korea dan Indonesia kita menunggu pesanan makanan datang. Kita banyak ngobrol tentang kuliner di Korea dan beberapa restoran non-Korea yang ada di Seoul. Sembari ngobrol saya pun mengecek beberapa notification di HP saya.



Dari awal saya memang menggunakan 2 HP selama di Korea, namun saya sering meninggalkan satu HP di kamar atau membawanya di dalam tas dan menggunakannya hanya sebagai cadangan. Namun pada makan siang itu saya mengeluarkan HP cadangan saya untuk melihat kalau-kalau ada notifikasi lain. Begitu makanan datang, saya pun meletakkan dua HP saya di sebelah kanan makanan.



Tiba-tiba saja Haneul dan Sora ngobrol berdua menggunakan bahasa Korea sambil senyum-senyum sendiri. Saya sama Shelly cuma lanjut makan aja. Mereka masih terus ngobrol sampai beberapa saat kemudian di tengah-tengah kita makan. Tiba-tiba Haneul memanggil saya sambil masih senyum-senyum.

“Hi Eri,”
“Yap?” jawabku sambil mengunyah sisa makanan di mulut.
“You have 2 phones?” tanya Haneul.
“Yes, why??” aku tanya balik
“Hmmmm, you are a bussinessman?” Haneul tanya lagi
“No, I just graduted from university,”

Haneul dan Sora kembali terlibat obrolan menggunakan bahasa Korea dengan masih sambil cekikikan dan senyum-senyum. Saya dan Shelly yang emang ga jago bahasa Korea cuma nebak-nebak aja. Akhirnya saya tanya sama Haneul.

“It’s not common thing to have 2 phones in Korea, except that you are a bussinessman, or....” Haneul menjelaskan
“or what, Haneul?” saya penasaran sudah
“a player, haha” jawab Haneul sambik tertawa.

Saya yang kaget malah ikutan ketawa, diikuti Sora dan Shelly. Buseeet, jadi dari tadi Sora dan Haneul mikir kalau saya ini playboy yang lagi menangani 2 cewek lewat 2 HP yang berbeda, hahaha. Mengantisipasi untuk menjaga nama baik, haha, saya jelaskan saja ke Haneul dan Sora kalau di Indonesia sekarang sudah menjadi hal biasa punya dua HP. Mereka berdua ngangguk-ngangguk dan kita lanjut makan siang sambil ngobrolin banyak hal lain.

Selasa, 31 Maret 2015

SGTC (SCTV Goes to Campus) 2015

Pada awalnya saya biasa-biasa aja kalau ada yang tanya “kapan lulus”, “kapan wisuda”, dan pertanyaan-pertanyaan sejenis. Menurut saya lulus ga harus tiga setengah tahun, asal usaha tidak berhenti. Tapi sekarang jadi rada gengges karena pertanyaan-pertanyaan kaya gitu semakin menjadi-jadi dan terjadi kapanpun dan dimanapun. Walaupun saya tetep biasa-biasa aja, hahaha


Tapi ada lho momen di saat saya bersyukur kalau saya belum lulus kuliah. Lho kok bisa?? Jadi ceritanya gini: pada suatu hari seperti biasa saya sedang terbayang skripsi yang ga kelar-kelar di saat ada satu broadcast message dari temen tentang acara "SCTV Goes to Campus 2015". Acara ini isinya berbagai macam pelatihan tentang karir dunia TV, dan yang oke banget ada lomba news presenter! Sebagai anak komunikasi saya mupeng dong ikutan lomba kaya gini. Apalagi programnya yang buat sekelas Liputan 6 SCTV dengan hadiah yang menawan banget dah pokoknya. Pengalaman siaran di radio, saya pede aja daftar! Trus hubungannya dengan skripsi dan "ga lulus-lulus"? Jadi, salah satu syarat untuk ikutan adalah para manusia yang masih berstatus mahasiswa. Nah, GUE BANGET kan ! Masih berstatus mahasiswa (yang belum lulus).

Akhirnya saya ikutan dan seleksi pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 24 Maret kemarin. Oh ya, ternyata SGTC ini ga cuma yang berstatus mahasiswa doang. Pas dateng di seleksi hari pertama, banyak juga tuh yang udah kerja dan berumur juga ikutan. Hari pertama diisi sama test tertulis dan wawancara. Test tertulis diisi dengan berbagai soal pengetahuan umum, seperti hewan perliharaan pak Jokowi, tanggal tsunami aceh, hingga aliran musik Taylor Swift! Sebagai #swifties saya senyum-senyum sendiri jawab pertanyaannya, haha. Waktu sesi wawancara sudah saya siapkan CV dan foto edisi ganteng. Ada 5 interviewer yang ada dan saya kebagian mbak Retno Pinasih, sip dah ! Dari 130an peserta yang ikutan akan diambil 10 finalis yang akan melakukan live report untuk menentukan siapakah juara 1-3.

Sembilan finalis SGTC 2015 Solo

Final diadakan di esok hari Kamis, 25 Maret. 10 besar finalis akan diumumkan usai seminar yang diadakan dari pagi. Saya dari rumah berangkat jam 9 dan masih galau apakah akan datang ke rektorat untuk lihat pengumuman finalis atau ke fakultas aja untuk konsultasi skripsi. Maksud hati mau milih ke fakultas aja deh, soalnya dosbim saya Jumat mau ke luar kota, jadi sayang banget kalau sampe gagal konsul skripsi! Tapi karena ibu saya bilang kalau mendingan saya dateng ke lomba SGTC dulu, akhirnya saya datang ke auditorium tempat lomba. Di sana sudah ada Dewa, temen saya dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, yang ikut barengan lomba news presenter ini. Saya berangkat dengan rencana kalau sampai jam 11 siang belum diumumkan, mau langsung ke fakultas aja buat konsultasi skripsi.

Seminar selesai jam 10.45 dan 10 finalis diumumkan, nama saya ada di urutan no 9! Ga nyangka aja, akhirnya rencana konsultasi terlupakan sejenak. Saya dan 10 finalis lainnya masuk ke sebuah ruang untuk persiapan. Para finalis diberi tema masing-masing mengenai berita yang sedang hangat. Beritanya bener-bener yang baru aja keluar pagi ini. Saya kebagian tentang penetapan Denny Indrayana sebagai tersangka kasus korupsi payment gateway. Sempet ribet juga karena hanya diberi waktu sekitar 15 menit untuk persiapan sementara koneksi hape kena blocking atau kenapa sampai buat browsing lemot abis. Akhirnya dengan bantuan pinjem smatrphone panitia, persiapan kelar!

Singkat cerita giliran saya kelar dengan lancar.Tapi ada satu yang cukup seru. Setiap finalis diminta live report seperti layaknya seorang reporter yang melaporkan berita dari lapangan. Setelah selesai laporan, orang yang seolah menjadi anchor di studio akan bertanya tentang pertanyaan terkait laporan kita. Daaan, selesai dengan live report, saya dapat pertanyaan "menurut Anda, Denny Indrayana salah ga?" !

Kelar deh kelaar, tinggal nunggu pengumuman aja. Juara 3 diraih Dimas, seorang penyiar TVRI Jawa Timur. Doi sedang mengambil program master di UGM tapi saya lupa departemen apa. Juara 2 diraih Jaya, penyiar TVRI Jawa Barat dan sedang mengambil program transfer S1 Ilmu Komunikasi di UNS. Saya udah nothing to lose aja deh. Masih inget banget saat pengumuman Juara 1. Mbak Senandung Nachita sempet tanya ke audience mau milih Juara 1 nya cowok atau cewek. Karena 2 jauranya udah cowok, audience pada teriak "ceweeeeeeek!". Masih inget juga waktu mbak Retno Pinasih sebagai ketua dewan juri mulai mengumumkan Juara 1. Mbak Retno bilang kalau Juaranya ga jauh-jauh dari urutan juara 2 dan Juara 3. Dimas peserta urutan 8 dan Jaya peserta urutan 10, dan bener aja, Juara 1 jatuh ke peserta no urut 9, DAN NAMA GUE DISEBUT !! Ga nyangka, seneng, dan kaget cuuuy ! Rezeki anak sholeh, belum lulus kuliah, skripsi belum kelar-kelar, tapi dikasih yang beginian. Big thx, God !

Pemenang dan finalis bersama pak Nurjaman dan Pak Ravik


Saya jadi inget, untung Ibu saya nyuruh saya tetep dateng ke pengumuman SGTC ini yang akhirnya berbuah manis :)
Akhirnya saya juga tetep bisa konsultasi skripsi juga lho, dan hari itu juga kerjaan analisis saya disetujui !
Lengkap sudah :)

The Winners SGTC 2015 Solo